Selasa, 23 Mei 2017

Terbongkarnya pesta gay berkedok tempat fitnes di Kelapa Gading



Sebanyak 141 laki-laki digelandang polisi ke Mapolres Jakarta Utara dari dalam ruko Inkopal dan Fitnes Atlantis di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (21/5) malam. Sebelum digelandang, ratusan pria tersebut dikumpulkan dalam keadaan telanjang dada dalam sebuah ruangan. Setidaknya, hal tersebut yang terlihat di dalam foto yang beredar.

Para pria tersebut digerebek saat tengah asyik menggelar pesta seks sesama jenis alias gay. Sayang, belum usai hingar bingar pesta, mereka keburu digerebek polisi.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Nasriadi mengungkapkan polisi menyita sejumlah kondom, tiket, CCTV, serta fotokopi ijin usaha PT Atlantis Jaya.

"Polisi juga menyita barang bukti berupa uang tip striptease, kasur, iklan event The Wild One dan HP yang broadcast acara tersebut," kata Nasriadi, Jakarta, Senin (22/5).

Tak hanya menggelandang ratusan pria penyuka sesama jenis, polisi turut mengangkut penyedia usaha pornografi dan resepsionis. Mereka yang diamankan adalah Christian Daniel Kaihatu (40) selaku pemilik dan Nandez (27), resepsionis/kasir.

"Kemudian Dendi Padma Putranta (27) sebagai resepsionis dan kasir, Restu Andri (28) sebagai sekuriti," jelasnya.

Nasriadi menjelaskan pesta seks khusus lelaki penyuka sesama jenis tersebut bertema 'The Wild One'. Dimana undangan disebar melalui pesan berantai dalam aplikasi WhatsApp.

"Dengan nama event "The Wild One" mengamankan 141 orang yang melanggar UU No 4 Tahun 2008 tentang Pornografi."

Prostitusi sesama jenis berkedok tempat fitnes itu sudah beroperasi sejak tiga tahun lalu. Di tahun kedua dan ketiga-lah tempat fitnes 'esek-esek' itu mulai ramai dikunjungi.

"Sudah tiga tahun. Event seminggu sekali doang," kata Nasriadi.

Adanya praktik prostitusi diperkuat dari temuan penyidik sejumlah kondom, kostum superhero serta beberapa alat bantu seks di lokasi.

Kepada penyidik, lanjut Nasriadi, pria penyuka sesama jenis tersebut membeberkan tarif penari striptis pria yang berbeda-beda.

Untuk penari striptis yang masuk kategori senior dibayar dengan tarif Rp 1,2 juta, sedangkan yang lain sekitar Rp 800.000 sampai Rp 900.000. "Senior sering tampil. Dibayar pengelola," ujar dia.

Aktivitas ini sudah diintai polisi sejak dua pekan terakhir. Saat digerebek, sejumlah bukti berupa papan kondom, kostum superhero dan masker untu penari striptis pria diamankan petugas.

"Dua minggu belakangan diintai. Puluhan papan Kondom laki-laki, kostum Batman dan masker untuk penari striptis," ucap dia.






Sementara itu, Kapolres Jakarta Utara Kombes Dwiyono membeberkan aturan main masuk ke lokasi pesta seks gay di Atlantis Gym dan Sauna. Dikatakannya, bagi para gay di luar member wajib meninggalkan kartu tanda pengenal semisal KTP untuk masuk ke tempat gym dan sauna tersebut.

"Yang jelas mereka masuk untuk yang tidak dikenal harus meninggalkan KTP-nya," beber Dwiyono.

Dwiyono menuturkan, dari luar lokasi, Atlantis Gym dan Sauna sama sekali tidak terlihat seperti tempat untuk menggelar pesta seks sejenis.

"Karena di situ hanya ada ruko tapi ada dua pintu masuknya kurang lebih satu meter," ujar dia.

Dwiyono mengungkapkan bila Atlantis Gym dan Sauna itu tidak memakai logo yang berkaitan dengan kegiatan fitnes. Bahkan, jika dilihat dari luar tempat fitnes tersebut terlihat seperti ruko biasa.

"Kemudian tidak ada logo yang berkaitan dengan kegiatan fitnes atau gym atau lain tidak ada sama sekali," ucap Dwiyono.

Lebih jauh, mantan Kapolres Jakarta Pusat ini mengungkap pelanggan yang berdatangan ke tempat fitnes 'esek-esek' itu sekitar 25 smapai 35 orang. Mereka dipungut biaya Rp 185.000 per kepala.

Omzet yang diraup pun cukup fantastis. Tak tanggung-tanggung dalam sehari pemilik bisa mengantongi Rp 26.640.000. Dari nilai itu di tiap harinya, total pemilik mampu mengantongi sekitar Rp 799.200.000 saban bulan.

"Rata-rata pelanggan 25 sampai 35, kalau omzet satu orang Rp 185.000 kalikan saja 144."

Sejauh ini, penyidik telah menetapkan 10 tersangka dalam kasus tersebut dengan pasal berbeda-beda.

Untuk para striptis pria, polisi menjeratnya dengan Pasal 4 ayat 10 Undang-undang (UU) nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman sepuluh tahun penjara.

"Sedangkan penyedia tempat, polisi menjeratnya dengan Pasal 4 ayat 2 UU nomor 44 tahun 2007 tentang pornografi dengan ancaman enam tahun penjara," ujar dia.

Dwiyono tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru dalam pengembangan kasus ini. Polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif baik terhadap tersangka ataupun saksi.

"Sejauh mana nanti apakah mereka terbukti atau tidak. Apakah ada pasal yang dilanggar atau tidak," tandas Dwiyono.



SATUDARAHKU

SATUDARAHKU.COM Situs Berita Hari Ini Indonesia Yang Memberikan Kabar Harian Berita Terkini dan Terbaru Setiap harinya . Seputar Berita Politik, Bisnis, Dan Gosip Terkini Secara Akurat

Recent