Jumat, 21 April 2017

Siswi hamil hingga putus sekolah di Mojokerto terus meningkat


PERISTIWA - Jumlah siswi hamil yang berdampak putus Sekolah di Kota Mojokerto jumlahnya terus meningkat. Dari data yang ada, tahun 2016 kemarin, mencapai 32 anak, ini naik dibandingkan tahu 2015 yang hanya 12 anak. Meningkatnya kasus siswi hamil ini, dinilai kurangnya perhatian orang tua pada anak anaknya saat di lingkungan keluarga.

Walikota Mojokerto Masud Yunus, tidak menampik meningkatnya jumlah siswi hamil yang berdampak pada kasus putus sekolah di Kota Mojokerto. Dia menyebut salah satu faktornya karena kurang perhatian orang tua di lingkungan rumah.

"Salah satu penyebabnya adalah faktor kurangnya perhatian orang tua. Sekaligus pendidikan agama yang harusnya menjadi pondasi dari anak-anak, ini yang mestinya kita tanamkan sebagai orang tua," kata Walikota Masaud Yunus, Jumat (21/4).

Terus meningkatnya kasus siswi hamil hingga putus sekolah ini, Pemkot terus melakukan upaya pencegahan. Salah satunya melalui Satpol PP terus melakukan pemantauan dan razia di tempat yang biasa digunakan para pelajar nongkrong dan rawan kegiatan negatif.

"Satpol PP sudah saya intruksikan supaya meningkatkan razia pelajar, terutama ditempat-tempat yang biasa dipakai pacaran siswa, yang bisa mengarah pada prilaku negatif dan bisa sampai kasus siswi hamil," ujarnya.

Sementara data pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AK) Kota Mojokerto, menyebutkan jumlah pernikahan dini, warga dibawah usia 20 tahun masih tinggi. Namun demikian, tidak bisa disebutkan secara spesifik pernikahan dini akibat siswi hamil. Hanya secara umum, setiap tahun pernikahan diusia dini, jumlahnya mengalami penurunan.

"Kita tidak menampilkan data secara spesifik perihal siswi hamil diluar nikah. Namun secara umum kita mencatat bahwa prosentase kehamilan anak dibawah usia 20 tahun turun. Pada tahun 2015 mencapai 51,04 persen, dan turun pada tahun 2016 yakni 48,88 persen dari 871 pernikahan turun menjadi 422 pernikahan," kata Mohammad Imron, Kepala DP3AK, Kota Mojokerto, Jumat (21/4).

Kata Imron (panggilan ankrab Mohammad Imron), pihaknya terus melakukan upaya sosialisasi untuk menekan angka pernikahan dini warga Kota Mojokerto. Salah satunya membentuk forum forum di kalangan pelajar.

"Berbagai upaya terus kita lakukan, diantaranya membentuk Forum Anak mulai tingkat Kelurahan yang sekarang ini sudah ada 10 forum tingkat Kelurahan. Selain itu membentuk pusat informs dan konseling remaja (PIK-R) mulai SMP dan SMA/SMK di 24 Sekolahan, serta menambah anggota tim Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak, melakukan talkshow dan roadshow ke Sekolah dengan dinas pendidikan, Kepolisian, Kejaksaan, BNN Dinas Kesehatan, serta Satpol PP," pungkas Imron.



SATUDARAHKU

SATUDARAHKU.COM Situs Berita Hari Ini Indonesia Yang Memberikan Kabar Harian Berita Terkini dan Terbaru Setiap harinya . Seputar Berita Politik, Bisnis, Dan Gosip Terkini Secara Akurat

Recent