Sabtu, 29 April 2017

Pemandian suci masa Mpu Sendok memakai teknik pengairan canggih


PERISTIWA - Situs sejarah patirtan atau pemandian suci yang ditemukan di Kabupaten Malang sudah mengunakan teknik pengairan yang canggih. Beberapa teknik ilmu pengairan modern sudah teraplikasi di tempat tersebut, bahkan sudah mempertimbangkan unsur-unsur keindahan.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono mengatakan, patirtan dengan berbagai bentuk relief di dinding batu itu merupakan temuan pertama di Malang Raya. Dari struktur, bentuk dan susunan bangunan, empat patirtan tersebut sudah menunjukkan keistimewaannya.

"Pada patirtan ketiga, lantainya terbuat dari batu. Bukan hanya batuan padas, tetapi padas yang dilapisi vulkanik oleh batuan beku luar. Sehingga tidak menyerap air atau kedap air," kata Dwi Cahyono yang baru melakukan peninjauan lokasi, Sabtu (29/4).

Pemandian suci ditemukan di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Terletak di aliran sungai Mantenan yang mengalir dari lereng Gunung Semeru menuju sungai Brantas.

Pada patirtan bagian tengah antara patirtan pertama dan kedua, terdapat tebing batu yang diberi ragam hias yang terlihat jelas. Tetapi sekitarnya masih belum tahu, karena tertimbun tanah. Sementara patirtan yang di tengah dibuat couple atau disekat dua bagian.

"Posisi patirtan sisi barat dan timur lebih tinggi, sementara bagian tengah lebih rendah, sebagai saluran buang. Menariknya, di bagian tengah diberi tempat untuk memasukkan papan supaya meninggikan debit air. Kalau sekarang mungkin serupa dengan dump pintu air. Ini sudah maju," urainya.

Ternyata tidak hanya fungsi pengairan saja, tetapi sudah mempertimbangkan keindahan. Karena air yang berasal dari sungai dialirkan ke patirtan dengan pancuran-pancuran. Sementara ditemukan 5 pancuran dan 12 pancuran yang jelas terlihat.

"Bukan sekadar fungsional tetapi sudah artistik, memikirkan penghias dan artistik," tegasnya.

Bagian barat juga kelihatan, terdapat pilaster penyangga air pancuran. Kalau sebelah barat penyangganya berupa patung Gana, sebanyak 12 Gana. Gana adalah panglima dari Ganesha yang juga ditemukan tertempel di relief.

"Kenapa Gana dan Ganesha, karena sungai ini berbahaya karena curam. Ganesha sendiri dalam fungsinya sebagai Vicneswara, penjaga keselamatan atau peniada bahaya. Sebagai penjaga bahaya gaib," katanya.

Dwi juga juga mengungkapkan, nama sungai Penganten berasal dari kata Anti (ma-anti-an) yang secara harafiah berarti menunggu atau jaga. Karena itu, patirtan tersebut memiliki kesakralan dengan airnya yang suci.

"Pahatannya bisa dilihat kesakralan, ada Jaladwara. Bahkan patungnya satu diamankan di Balaidesa. Mungkin banyak tapi masih terpendam. Airnya kemungkinan untuk kepentingan religius," tegasnya.

Dwi belum berani memutuskan secara pasti masa peninggalan situs sejarah tersebut. Namun berdasarkan prasasti Prasasti Kanuruhan B (Wurandungan) bertahun 944 M atau abad X pada masa Hindu-Buddha.

Prasasti yang dibuat atas perintah Mpu Sendok itu menyebut Kahyangan Kaswangga yang dimungkinkan sebagai Desa Ngawonggo. Tentu keberadaan situs tersebut lintas masa antara sebelum dan sesudahnya.

Patirtan tersebut seolah membenarkan adanya jejak permukiman Kahyangan Kaswangga, yaitu sebuah komunitas keagamaan yang dipimpin seseorang dengan gelar Rangga.



SATUDARAHKU

SATUDARAHKU.COM Situs Berita Hari Ini Indonesia Yang Memberikan Kabar Harian Berita Terkini dan Terbaru Setiap harinya . Seputar Berita Politik, Bisnis, Dan Gosip Terkini Secara Akurat

Recent